fbpx

Lakukan 5 hal ini dan jadikan rutinitas, Jangan sampai si kecil merasa terabaikan.

Terlalu sering membiarkan anak melakukan berbagai hal tanpa bimbingan dapat membuat anak sering kali merasa diabaikan. Lalu, bagaimana agar anak tidak merasa diabaikan orangtua. Apa yang harus dilakukan orangtua?

Kedekatan antara orangtua dan anak harus senantiasa terjalin dengan baik. Anak harus mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orangtua. Jika tidak, pertumbuhan fisik, psikologis, kognitif dan intelektual anak akan terganggu.Telah banyak kejadian di mana anak merasa diabaikan oleh orangtua mereka karena perhatian dan kasih sayang yang harusnya mereka dapatkan tidak mereka peroleh.

Entah itu karena pada dasarnya orang tua mereka tipikal orang tua yang masa bodoh, tidak peka terhadap keberadaan anak atau memang karena sangat sibuk oleh tuntutan pekerjaan sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama bersama anak mereka. Meskipun orangtua mereka telah memenuhi semua kebutuhan jasmani dan memberikan segala fasilitas yang anak butuhkan tetap saja anak merasa diabaikan.Bisa saja bunda sebagai orangtua tidak memahami pola asuh yang tepat dalam membesarkan anak bunda. Seringkali bunda membiarkan anak Anda sendiri melakukan berbagai hal tanpa bimbingan Anda.

Itulah yang membuat anak seringkali merasa terabaikan.Lalu, bagaimana agar anak tidak merasa diabaikan orangtua?

1. Berikan sedikit waktu untuk menemani anak Anda beraktivitas

Sesibuk-sibuknya bunda dengan aktivitas atau pekerjaan Anda, cobalah untuk meluangkan sedikit waktu untuk menemani anak dalam beraktivitas. Misalnya, menemani anak saat mengerjakan PR, menemani anak saat makan ataupun saat anak sedang bermain. Anak akan merasa bahwa Anda juga peduli dengan mereka dan mereka tidak merasa diabaikan.

2. Jadilah pendengar yang baik bagi anak Anda

Anak- anak juga butuh untuk didengarkan bukan hanya Anda orangtua. Dalam satu hari beraktivitas, akan ada kejadian dan pengalaman yang dialami oleh anak. Terkadang, anak ingin berbagi cerita ke orang lain untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Sebagai orangtua, harusnya Anda bisa menjadi pendengar yang baik dan utama bagi anak. Cobalah untuk mendengarkan tanpa harus mencela. Berikan waktu untuk mereka bercerita. Lalu, berikan pendapat, apresiasi atau nasihat atas pengalaman atau kejadian yang mereka ceritakan.

3. Jadilah teman bagi anak Anda

Sebagai orangtua Anda harus memiliki wibawa dan harus dihormati oleh anak. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa berperan sebagai seorang teman atau sahabat bagi anak Anda. Jangan bangga ketika Anda ditakuti atau disegani oleh anak. Justru, Anda akan sukses menjadi orangtua ketika antara Anda dan anak tidak memiliki batasan atau jarak. Jadilah teman yang baik bagi mereka, sehingga anak merasa nyaman berada bersama Anda dan tidak merasa diabaikan.

4. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak Anda

Komunikasi yang efektif dan terjalin baik akan menciptakan kedekatan yang lebih erat lagi antara orangtua dan anak. Misalnya, sebelum berangkat kerja dan anak masih belum bangun, biasakan untuk berpamitan pada anak. Jangan langsung pergi tanpa berkomunikasi dengan anak. Lakukan komunikasi sesering mungkin dan senantiasa menanyakan kabar keadaan anak.

5. Tunjukkan kasih sayang Anda

Kasih sayang dan cinta yang Anda berikan bisa Anda tunjukkan dengan perhatian, pelukan, ciuman dan belaian. Anak yang kurang atau jarang bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang orangtua akan mengalami banyak dampak negatif selain merasa terabaikan.

Anemia Bisa Sebabkan Turunnya IQ Anak Hingga 10 Persen

Hasil gambar untuk kid

Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Prof Dodik Briawan mengatakan anemia pada anak usia kurang dari dua tahun akan mengganggu perkembangan syaraf otak atau kemampuan kognitif bahkan bisa menurunkan IQ hingga 10 persen.

“Di Bogor, satu dari lima remaja mengalami anemia. Anemia dapat menurunkan 20 persen kemampuan kerja dan kemampuan kognitif. Dan, bersifat permanen,” kata Dodik dalam kegiatan praorasi guru besar IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/4/2017).

Ia menjelaskan, anemia merupakan masalah gizi mikro yang dialami hampir semua negara. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai dua miliar orang atau sepertiga dari populasi dunia. Penderita anemia paling banyak berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.

Secara umum, lanjutnya, 50 persen kejadian anemia karena kurangnya asupan zat besi sehingga sering disebut Anemia Gizi Besi atau AGB. Anemia sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16 di Eropa dengan nama chlorosis.

“Cara pengobatannya sudah diketahui saat ini dengan garam besi. Dalam satu hari kebutuhan manusia akan zat besi hanya 60 miligram per hari, dan bisa tercukupi dengan mengonsumsi daging, telur, dan ayam,” kata pakar gizi IPB ini.

Ia menyebutkan akan ada fenomena loss generation (kehilangan generasi) dan bisa mengakibatkan kematian karena menurunnya imunitas akibat anemia.

Baca juga : Herpangina, penyakit pada Bayi dan Anak yang membuatnya susah makan

AGB, lanjutnya, terjadi karena rendahnya kualitas konsumsi pangan. Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi beras 97,7 persen, sayuran 79,1 persen.

Pola diet yang dilakukan tersebut meningkatkan risiko anemia gizi besi, anemia karena infeksi dan penyebab lainnya seperti infeksi cacing dan malaria serta inflamasi karena TB dan HIV/AIDS.

Hasil penelitian mahasiswa Program Magister IPB tahun 2016 mengungkapkan bahwa estimasi kerugian ekonomi bangsa Indonesia terhadap kasus anemia mencapai Rp62 triliun atau setara dengan 0,711 persen PDB.

“Kerugian ekonomi pada anak balita dan sekolah sebesar Rp1,3 juta, remaja Rp830 juta, wanita dewasa Rp1,9 juta, dan laki-laki dewasa Rp2,8 juta per kapita per tahun,” katanya.

Dodik menambahkan, pemerintah telah melakukan beberapa program untuk menangani AGB, yakni melalui fortifikasi pangan, suplementasi zat besi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) gizi, dan peningkatan kualitas konsumsi pangan.

“Bank Dunia tahun 2016 menyatakan bahwa dengan investasi satu dolar AS untuk perbaikan anemia pada kelompok wanita usia subur akan mengembalikan uang sebesar 12 dolar AS. Artinya investasi di bidang gizi khususnya anemia sangat menguntungkan,” kata Dodik, seperti dikutip dari Antara.

Ini Dia, 7 Ciri orangtua yang gagal mencintai dan dicintai anaknya

Hasil gambar untuk parent

Jangan biarkan Anda melakukan kesalahan di bawah ini agar terhindar dari cap sebagai orangtua yang gagal.

Tak ada yang sempurna di dunia ini sehingga kadang apa pun yang kita lakukan dianggap salah di mata orang lain. Dalam hal memberikan kasih sayang pada anak, banyak yang merasa menjadi orangtua yang gagal mencintai anaknya.

Sekalipun orangtua berkata bahwa ia mencintai anak, sikapnya tak menunjukkan hal itu. Sehingga anak pun melihat bahwa orangtuanya tidak mencintainya dan menimbulkan luka hati yang dalam.

Tak ingin disebut gagal karena merasa telah berusaha menjadi orangtua yang baik? Ingat-ingat, sikap apa saja yang pernah Bunda lakukan untuknya.

Orangtua yang gagal mencintai dan dicintai anak umumnya melakukan 7 hal berikut:

1. Menunjukkan citra diri yang negatif di depan anak

Orangtua yang merasa jelek dan tidak percaya diri di depan anak akan membuat anak merasa bahwa ia bukanlah sosok panutan yang baik. Tak hanya mengajarkan anak caranya menjadi orang baik, tapi memberikan contoh yang baik.

Cinta orang tua mencakup kata-kata yang tulus, senyuman atau penampilan ramah yang menunjukkan empati, dan punya rasa humor yang baik. Ia bisa menunjukkan kasih sayang secara fisik, memberikan perlakuan hormat dan perhatian, kelembutan, kemauan bertindak dengan peran “ibu” atau “ayah” yang sesungguhnya, dan memiliki sikap sensitif serta responsif terhadap anak.

2. Tidak jadi orangtua yang dewasa

Orangtua yang dewasa selalu jadi orang yang bertanggung jawab di depan anak. Ia tak harus sempurna, namun anak bisa menilai apakah orangtuanya bisa menyelesaikan masalah dengan dewasa atau sebaliknya justru tampak seperti orang yang tak siap berumah tangga.

Orangtua seperti ini tak ragu berteriak saat bertengkar dengan pasangan dan saat marah ke anak. Ketika anak meminta bantuannya melakukan sesuatu, orangtua yang gagal akan selalu mencari alasan untuk mengabaikan anak

3. Tidak pernah menunjukkan kasih sayang secara fisik pada anak

Psikology Today menyatakan bahwa banyak orangtua yang tidak bisa menunjukkan kasih sayangnya pada anak secara langsung. Misal, menggendong anaknya, memeluk anaknya, atau mencium anaknya sejak ia kecil sampai dewasa.

Yessy, seorang ibu dari dua orang anak lelaki bercerita bahwa saat anaknya masih bayi, sang suami tak pernah menggendong anaknya.

“Suami selalu takut menggendong anak dan tak pernah mencoba. Ia juga tak pernah memeluk anak saat ia balita. Baginya, cinta pada anak itu saat ia memberi uang. Padahal anak tak hanya butuh materi,” tuturnya.

Saat anak sudah dewasa kini, ia tahu bahwa anaknya mengalami kesulitan mengungkapkan kasih sayang pada calon istrinya. Ia tampak tidak siap menghadapi kehidupan pernikahan.

Misalnya dengan menjadi seorang yang dingin serta cuek sekalipun ia mengaku bahwa dirinya mencintai pasangan yang akan dinikahinya. Kesulitan mengungkapkan kasih sayang ini bermuara dari orangtua yang gagal menunjukkan cintanya saat anak masih kecil dulu.

4. Orangtua punya trauma yang tidak selesai di masa lalu

Orang yang memiliki trauma sering sulit mengontrol rasa sedih dan frustasinya. Terutama di depan anak-anaknya.

Oleh sebab itu, jika orang tua punya trauma di masa lalu, baiknya segera hubungi psikolog atau psikiater yang dapat membantu Anda keluar dari masa suram. Jangan sampai anak yang tak tahu apa-apa ikut menanggung rasa sedih tak berujung dari orangtua yang trauma.

Menunjukkan kesedihan memang tak masalah. Anak perlu tahu bahwa dalam hidup kadang keadaan memang tidak baik-baik saja.

Namun, jika kesedihan itu terjadi terus menerus tanpa akhir dan penyebabnya adalah tragedi di masa lalu, maka Anda butuh pertolongan profesional. Jangan sampai trauma kita jadi trauma tersendiri di mata anak.

5. Berkata dan bersikap kasar

Anak akan mengingat Kita sebagai musuh, bukan sebagai orangtua. Karena Bunda tak memperlihatkan sebagai orangtua yang membantunya berlindung dari dunia yang kejam ini.

6. Disiplin dengan aturan yang dibuat

Jika Kita melarang anak untuk merokok, maka Kita juga tidak boleh jadi perokok. Jika Bunda ingin anak tidak banyak memainkan gadget, Bunda juga harus menunjukkan bahwa kita sendiri tidak terus menerus memegang gadget.

Saat anak melihat Kita melanggar aturan yang diterapkan padanya, ia akan merasa bahwa orang dewasa bisa berbuat semaunya. Orangtua yang gagal adalah mereka yang memberikan banyak aturan namun jadi pelanggar nomer 1 aturan tersebut.

7. Suka mengungkit kesalahan

Jika anak dan pasangan melakukan kesalahan yang berulang, belum tentu mereka mau diungkit lagi kesalahannya. Mengungkit kesalahan sama saja dengan menusuk dada orang dengan belati berkali-kali.

Bila ingin menunjukkan cinta pada anak, bersikaplah lembut, jadi tempat yang aman untuknya, jadilah contoh yang baik untuk anak, jangan suka mengungkit kesalahan, menyelesaikan masalah dengan diri sendiri, tak ragu tunjukkan kasih sayang, dan bersikap konsisten dengan perkataan yang dibuat.

Jika Ayah Bunda bukan orangtua seperti di atas, maka selamat! Anda bukan orangtua yang gagal mencintai dan dicintai oleh anak.

 

Jangan Panggil Anak Mamah “Gemuk”

Hasil gambar untuk anak gemuk

Studi menemukan julukan “gemuk” dapat menimbulkan luka psikologis pada anak dan mereka punya kemungkinan jadi lebih gemuk di masa depan.

Anak yang disebut terlalu gendut oleh orangtuanya menjadi lebih gemuk saat dewasa ketimbang anak dengan berat serupa yang tidak dijuluki gendut oleh orangtuanya.

Disebut kegemukan juga membuat usaha anak untuk diet jadi gagal.

Eric Robinson dari Liverpool University dan Angelina Sutin dari Florida State University menganalisis dua studi di mana mereka memantau perkembangan anak.

Studi pertama, Longitudinal Study of Australian Children, melacak berat badan anak dari 4.983 keluarga dari usia empat atau lima hingga 14 atau 15 tahun.

Selama studi berlangsung, orangtua ditanya apakah mereka menganggap anak mereka terlalu kurus, berat badan normal, sedikit gemuk, dan kegemukan.

Baca Juga : 5 Alasan Penting Kenapa Harus Memilih GIZIDAT Buat Anak

Penulis itu mengungkapkan “anak yang disebut kegemukan pada usia 4 atau 5 menjadi lebih gemuk pada dekade berikutnya, karena mereka menganggap mereka memang terlalu gemuk”.

Anak-anak itu juga “berusaha mengurangi berat badan lebih sering lewat diet pada usia 12 atau 13 ketimbang mereka yang dianggap punya berat badan normal saat kecil”.

Satu dari lima anak dalam studi termasuk kategori kegemukan atau obesitas, meski 86 persen dari orangtua mereka menganggap anaknya punya berat badan normal.

Pada studi kedua pada 8.568 keluarga di Irlandia, perkembangan anak dilacak pada usia 9 dan 13 tahun.

Saat berusia 9 dan 13 tahun, orangtua diwawancara dan ditanyai apakah mereka menganggap anaknya punya berat badan normal, terlalu kurus atau terlalu gemuk.

Studi kedua punya hasil serupa dengan studi di Australia.

Dibandingkan dengan anak yang dianggap punya berat badan normal oleh orangtuanya, anak yang dianggap kegemukan pada usia 9 “punya berat badan lebih berat pada usia 13 tahun”.

Seperti studi pertama, anak-anak yang dijuluki gemuk juga lebih sering berusaha diet, seperti dilansir Daily Mail.

Banyak dari orangtua yang tidak menganggap anaknya gemuk, meski indeks massa tubuh sepertiga anak-anak menunjukkan mereka kegemukan atau obesitas.

Dari anak-anak yang kegemukan, lebih dari setengah (55 persen) dianggap punya berat badan normal oleh orangtuanya, sementara 44 persen dianggap kegemukan.

Khasiat Madu Sebagai Sumber Probiotik Alami

Hasil gambar untuk madu

Khasiat Madu Sebagai Sumber Probiotik Alami

Bunda,

Selama ini kita mengenal probiotik dalam kemasan minuman yang dijual bebas di toko atau supermarket. Probiotik sebenarnya secara alamiah ada dalam tubuh kita. Probiotik sendiri merupakan mikroorganisme hidup yang bisa membantu mencegah dan menanggulangi penyakit. Probiotik dapat membantu saluran pencernaan kita dengan jumlah bakteri baik dan bakteri jahat yang seimbang dalam tubuh. Madu yang kita kenal memiliki berbagai nutrisi, ternyata juga mengandung zat probiotik alami.

Bakteri Baik dan Bakteri Jahat

Saluran pencernaan kita, terutama pada bagian usus, secara alami mengandung sekumpulan mikroorganisme salah satu diantaranya adalah bakteri. Jumlah bakteri baik dan jahat harus seimbang. Bila bakteri jahat jumlahnya lebih banyak dari bakteri baik, biasanya kita akan mengalami diare karena bakteri jahat akan mengeluarkan racun yang bisa menyebabkan diare dan mengeluarkan enzim yang mendorong terbentuknya senyawa karsinogenik di dalam saluran pencernaan. Perut bisa juga terasa mual sebagai awal infeksi menyerang. Sementara bakteri baik akan menghasilkan antibiotika alami yang membantu keutuhan mukosa usus, proses metabolisme, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Riset Madu Sebagai Salah Satu Sumber Probiotik Alami

  1. Riset pernah dilakukan oleh sebuah lembaga bernama National Honey Board untuk meneliti madu sebagai salah satu sumber probiotik. Kemampuan madu memberikan manfaat probiotik telah diperiksa melalui media sel tikus. Penelitian ini mengungkapkan fakta bahwa Bifidobacteria (salah satu jenis bakteri yang sering ditemukan dalam usus) tumbuh lebih cepat pada usus tikus ketika tikus diberi makan madu. Di tahun 2016, sebuah artikel berjudul “Complementary and Alternative Medicine” juga menemukan bahwa pemberian madu pada tikus dapat meningkatkan tingkat bakteri baik pada usus tikus.
  2. Sementara riset yang dilakukan oleh Universitas Lund Swedia mengungkapkan bahwa madu mengandung 13 tipe bakteri baik. Kandungan 13 bakteri baik ini sama dengan kandungan pada minuman probiotik yang sering Bunda beli di supermarket. Oya Bunda, di setiap bunga yang menghasilkan madu pada bagian benang sarinya, bakteri baik berkumpul di dalam madu tersebut untuk melindungi lebah dari bakteri jahat dan jamur. Bakteri baik yang terdapat pada madu segar bermanfaat untuk memberi makan koloni lebah dalam jangka waktu yang lama. Bakteri dalam madu segar menghasilkan sejumlah zat aktif yang efektif membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi.

Apa Manfaat Probiotik Untuk Tubuh?

  1. Menambah kekebalan tubuh

Di dalam tubuh kita, kita terdapat sebuah sel yang bernama sel NK. Sel NK ini darah putih yang penting untuk kekebalan tubuh. Penelitian yang dipublikasian pada tahun 2007 dalam “The Journal of Nutrition” menunjukkan bahwa minuman probiotik yang dikonsumsi selama tiga minggu membuat peningkatan aktivitas sel NK meningkat pada subyek penelitian.

  1. Meningkatkan jumlah insulin dalam darah

Penelitian tahun 2011 pada “Journal of Applied Microbiology,” menunjukkan bahwa ada peningkatan resistensi insulin setelah tikus diberikan probiotik. Studi pada media tikus ini diharapkan dapat diaplikasikan pula pada manusia.

Nah Bunda, ratusan studi telah menyelidiki berbagai jenis kelompok Lactobacillus probiotik untuk menambah kekebalan tubuh, mencegah arthritis dan kerusakan kulit, kolestero, kanker, diare, dan sembelit. Inilah kemudian yang menjadi alasan produsen mengembangkan minuman probiotik. Namun tentunya, bahan alami yang berasal dari alam tetap lebih baik dikonsumsi daripada produk olahan pabrik. Sehingga Bunda mesti lebih bijaksana dalam menyediakan sumber probiotik untuk Si Kecil. Gizidat dengan Probiotik alami lebih baik dan aman untuk kesehatan ananda….

 

Sumber :

www.livestrong.com

©2019 Madu Gizidat. Beautiful Creation by Geraima