Lakukan 5 hal ini dan jadikan rutinitas, Jangan sampai si kecil merasa terabaikan.

Terlalu sering membiarkan anak melakukan berbagai hal tanpa bimbingan dapat membuat anak sering kali merasa diabaikan. Lalu, bagaimana agar anak tidak merasa diabaikan orangtua. Apa yang harus dilakukan orangtua?

Kedekatan antara orangtua dan anak harus senantiasa terjalin dengan baik. Anak harus mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orangtua. Jika tidak, pertumbuhan fisik, psikologis, kognitif dan intelektual anak akan terganggu.Telah banyak kejadian di mana anak merasa diabaikan oleh orangtua mereka karena perhatian dan kasih sayang yang harusnya mereka dapatkan tidak mereka peroleh.

Entah itu karena pada dasarnya orang tua mereka tipikal orang tua yang masa bodoh, tidak peka terhadap keberadaan anak atau memang karena sangat sibuk oleh tuntutan pekerjaan sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama bersama anak mereka. Meskipun orangtua mereka telah memenuhi semua kebutuhan jasmani dan memberikan segala fasilitas yang anak butuhkan tetap saja anak merasa diabaikan.Bisa saja bunda sebagai orangtua tidak memahami pola asuh yang tepat dalam membesarkan anak bunda. Seringkali bunda membiarkan anak Anda sendiri melakukan berbagai hal tanpa bimbingan Anda.

Itulah yang membuat anak seringkali merasa terabaikan.Lalu, bagaimana agar anak tidak merasa diabaikan orangtua?

1. Berikan sedikit waktu untuk menemani anak Anda beraktivitas

Sesibuk-sibuknya bunda dengan aktivitas atau pekerjaan Anda, cobalah untuk meluangkan sedikit waktu untuk menemani anak dalam beraktivitas. Misalnya, menemani anak saat mengerjakan PR, menemani anak saat makan ataupun saat anak sedang bermain. Anak akan merasa bahwa Anda juga peduli dengan mereka dan mereka tidak merasa diabaikan.

2. Jadilah pendengar yang baik bagi anak Anda

Anak- anak juga butuh untuk didengarkan bukan hanya Anda orangtua. Dalam satu hari beraktivitas, akan ada kejadian dan pengalaman yang dialami oleh anak. Terkadang, anak ingin berbagi cerita ke orang lain untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Sebagai orangtua, harusnya Anda bisa menjadi pendengar yang baik dan utama bagi anak. Cobalah untuk mendengarkan tanpa harus mencela. Berikan waktu untuk mereka bercerita. Lalu, berikan pendapat, apresiasi atau nasihat atas pengalaman atau kejadian yang mereka ceritakan.

3. Jadilah teman bagi anak Anda

Sebagai orangtua Anda harus memiliki wibawa dan harus dihormati oleh anak. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa berperan sebagai seorang teman atau sahabat bagi anak Anda. Jangan bangga ketika Anda ditakuti atau disegani oleh anak. Justru, Anda akan sukses menjadi orangtua ketika antara Anda dan anak tidak memiliki batasan atau jarak. Jadilah teman yang baik bagi mereka, sehingga anak merasa nyaman berada bersama Anda dan tidak merasa diabaikan.

4. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak Anda

Komunikasi yang efektif dan terjalin baik akan menciptakan kedekatan yang lebih erat lagi antara orangtua dan anak. Misalnya, sebelum berangkat kerja dan anak masih belum bangun, biasakan untuk berpamitan pada anak. Jangan langsung pergi tanpa berkomunikasi dengan anak. Lakukan komunikasi sesering mungkin dan senantiasa menanyakan kabar keadaan anak.

5. Tunjukkan kasih sayang Anda

Kasih sayang dan cinta yang Anda berikan bisa Anda tunjukkan dengan perhatian, pelukan, ciuman dan belaian. Anak yang kurang atau jarang bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang orangtua akan mengalami banyak dampak negatif selain merasa terabaikan.

Anemia Bisa Sebabkan Turunnya IQ Anak Hingga 10 Persen

Hasil gambar untuk kid

Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Prof Dodik Briawan mengatakan anemia pada anak usia kurang dari dua tahun akan mengganggu perkembangan syaraf otak atau kemampuan kognitif bahkan bisa menurunkan IQ hingga 10 persen.

“Di Bogor, satu dari lima remaja mengalami anemia. Anemia dapat menurunkan 20 persen kemampuan kerja dan kemampuan kognitif. Dan, bersifat permanen,” kata Dodik dalam kegiatan praorasi guru besar IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/4/2017).

Ia menjelaskan, anemia merupakan masalah gizi mikro yang dialami hampir semua negara. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai dua miliar orang atau sepertiga dari populasi dunia. Penderita anemia paling banyak berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.

Secara umum, lanjutnya, 50 persen kejadian anemia karena kurangnya asupan zat besi sehingga sering disebut Anemia Gizi Besi atau AGB. Anemia sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16 di Eropa dengan nama chlorosis.

“Cara pengobatannya sudah diketahui saat ini dengan garam besi. Dalam satu hari kebutuhan manusia akan zat besi hanya 60 miligram per hari, dan bisa tercukupi dengan mengonsumsi daging, telur, dan ayam,” kata pakar gizi IPB ini.

Ia menyebutkan akan ada fenomena loss generation (kehilangan generasi) dan bisa mengakibatkan kematian karena menurunnya imunitas akibat anemia.

Baca juga : Herpangina, penyakit pada Bayi dan Anak yang membuatnya susah makan

AGB, lanjutnya, terjadi karena rendahnya kualitas konsumsi pangan. Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi beras 97,7 persen, sayuran 79,1 persen.

Pola diet yang dilakukan tersebut meningkatkan risiko anemia gizi besi, anemia karena infeksi dan penyebab lainnya seperti infeksi cacing dan malaria serta inflamasi karena TB dan HIV/AIDS.

Hasil penelitian mahasiswa Program Magister IPB tahun 2016 mengungkapkan bahwa estimasi kerugian ekonomi bangsa Indonesia terhadap kasus anemia mencapai Rp62 triliun atau setara dengan 0,711 persen PDB.

“Kerugian ekonomi pada anak balita dan sekolah sebesar Rp1,3 juta, remaja Rp830 juta, wanita dewasa Rp1,9 juta, dan laki-laki dewasa Rp2,8 juta per kapita per tahun,” katanya.

Dodik menambahkan, pemerintah telah melakukan beberapa program untuk menangani AGB, yakni melalui fortifikasi pangan, suplementasi zat besi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) gizi, dan peningkatan kualitas konsumsi pangan.

“Bank Dunia tahun 2016 menyatakan bahwa dengan investasi satu dolar AS untuk perbaikan anemia pada kelompok wanita usia subur akan mengembalikan uang sebesar 12 dolar AS. Artinya investasi di bidang gizi khususnya anemia sangat menguntungkan,” kata Dodik, seperti dikutip dari Antara.

©2019 Madu Gizidat. Beautiful Creation by Geraima