Ingin Mendisiplinkan Anak? Cara Bunda Glory Ini Bisa Ditiru Ya Moms…..

Ingin Mendisiplinkan Anak? Cara Ini Bisa Ditiru Moms

Usia Harvey mendekati 16 bulan, di tahap ini tidak hanya keingintahuannya yang tinggi dengan memanjat perabotan dan membongkar barang, tapi emosinya juga sudah semakin berkembang.

Jika dilarang atau dinasehati agar tidak melakukan suatu hal, Harvey mudah kecewa dan pelampiasannya dengan melempar barang atau memukul wajah saya atau pengasuhnya.

Tentu saya tidak ingin Harvey terus mempertahankan perilaku buruk ini.

Tapi untuk mendisiplin dengan memukul saya belum tega.

Walaupun Harvey belum bisa bicara lancar, tapi di usianya ini dia sudah mengerti perintah dan kalimat sehingga sebenarnya paham apa yang kita larang.

Tapi namanya juga anak pertama, semuanya serba khawatir, jika dipukul apakah nanti anak tidak trauma atau jadi membenci kita?

Umur berapa seharusnya mulai diterapkan hukuman disiplin?

BACA JUGA : Wahai, Ibu, Meski Sedang Kesal dan Marah, Namun Tetaplah Hindari 10 Jenis Hukuman yang Bikin Anak Minder dan Trauma Ini

Setelah membaca beberapa referensi dan ngobrol dengan ibu–ibu yang lebih senior, saya dan suami sepakat untuk mendisiplinkan Harvey tapi dengan “cara kami”.

Jadi moms, saya melakukannya dengan cara “iron fist in a velvet glove” alias tegas tapi tetap lembut.

Nah kurang lebih begini, saat Harvey merengek karena dilarang nonton video di gadget, kami akan konsisten melarang dan membiarkannya menangis.

Tapi kemudian saya atau suami akan mencari pengalihan seperti mengajaknya keluar ke halaman rumah sebentar atau mengajaknya bermain dengan buku bacaan atau mainan non-digital lainnya.

Ketika Harvey mulai emosi dan memukul atau melempar barang, kami akan menangkis pukulannya, atau jika perlu menepuk tangannya dengan lembut sambil mengatakan tidak boleh atau jangan.

Namun tetap memertahankan ekspresi wajah agar tidak terlihat melotot atau galak, agar anak tetap merasa ‘figur’ rasa amannya tetap ada.

Karena moms dari pengalaman seorang sahabat jika kita memarahi anak dengan jengkel dan muka kesal maka secara psikologis anak akan tertekan.

Tapi tidak cukup di sini Moms, saat anak dalam kondisi emosi yang baik, kita harus berkomunikasi dengan menatap matanya dan memberikan pengertian berulang.

“Kalau marah tidak boleh pukul ya…kalau pukul mama sakit dan sedih, Harvey nggak mau kan, mama sedih?”.

Intinya jangan sampai kita menasehati disaat kita masih mendisiplinkannya

Misalnya dengan ekspresi wajah yang ngotot dan nada yang tinggi, karena anak akan kehilangan ‘tempat berlindungnya’.

Mendisiplin tindakan di saat dia melakukan hal yang salah perlu dilakukan, tapi memberi masukan di saat lainnya itulah yang diharapkan akan didengar dan dimengerti anak.

Dan membuat pola perilakunya berubah, setelah saya mencoba melakukan hal ini beberapa kali, sekarang sudah sekitar satu minggu Harvey tidak melempar barang kalau sedang kesal.

Sementara untuk perilaku memukul sudah berkurang meskipun masih sesekali terjadi.

Yang penting konsisiten dan kompak dengan suami dalam mendidik.

Hal lainnya saya dan suami juga menghindari peran “good cop” “bad cop”karena nanti anak akan melihat ketidak konsistenan orang tua dalam sebuah keputusan, atau berpihak pada salah satu orang tua ketika yang satunya sedang mendisiplin.

Meskipun tidak mudah dilakukan namun hal ini cukup berhasil buat saya dalam mendidik Harvey, semoga berhasil juga buat moms semua ya.

Hasil gambar untuk glory oyong dan keluarga

Efek Samping Madu Gemuk Anak

Banyak orang galau terutama para bunda di rumah yang ingin memberikan madu penambah berat badan anak dan mencari tahu di google apakah ada efek samping madu gemuk anak itu?

Benar, sebagai orang tua kita patut waspada karena ini menyangkut kesehatan dan nyawa sang buah hati. Meskipun kondisi saat ini terlihat kurus, kering kurang suka makan meski telah apapun dicoba termasuk memberikan makanan kesukaannya.

Nah, seharusnya kita sebagai orang tua mau menyelidiki terlebih dahulu mengapa anak tidak suka makan? ini tentu berkait dengan psikologis sang anak yang tidak doyan makan. Pada artikel cara mengatasi anak susah makan, telah kami jelaskan sebab-sebabnya dan bagaimana cara Anda membuat anak mau makan.

Kembali ke topik utama, adakah efek samping madu gemuk anak?

Ada dan tidak ada. Nah, lo…kok bisa?

Ada jika sumber madu anak yang digunakan untuk diberikan kepada anak adalah madu sembarangan. madu yang kita tidak tahu bagaimana cara memperoleh, menyimpan, kadar air dan kada keaslian termasuk manis alami madu itu sendiri.

Jangan salah bunda, saat ini banyak sekali madu yang beredar yang kita tidak tahu kejujuran penjualnya. Demi meraup uang kadangkala manisnya madu ditambah dengan madu singkong. Coba cari informasinya di google untuk lebih valid.

Sebaiknya untuk mengurangi efek samping madu gemuk anak, Anda bisa memastikan dengan cara :

  1. Apakah madu yang dijual adalah madu ternak, madu hutan atau madu hasil keduanya kemudian dicampur dengan bahan-bahan lain atau tidak.
  2. Apakah produk madu gemuk anak yang dijual sudah didaftarkan di dinas kesehatan untuk meyakinkan kita sebagai konsumen akan kualitas madu gemuk anak tersebut.

Jika produk madu gemuk anak benar-benar berkualitas, maka sangat sedikit ditemukan komplain pelanggan yang menyatakan madu gemuk anak yang dikonsumsi tidak bagus.

MADU GEMUK ANAK GIZIDAT KUALITAS BAGUS TANPA EFEK SAMPING

Agar tidak selalu gelisah dengan polemik efek samping madu gemuk Anak, mari kami perkenalkan Gizidat Madu Gemuk Anak Ekstrak Ikan Sidat, Curcuma Plus Probiotik.

Madu ini adalah Pioner / Madu No. 1 Pertama di Indonesia yang menggunakan bahan baku ikan sidat yang kandungan albumin dan proteinnya lebih baik dibandingkan dengan ikan salmon dan ikan gabus.

Bunda tidak perlu khawatir, Insya Allah Gizidat Madu Gemuk Anak ini tidak memiliki efek samping, karena Gizidat telah mendapatkan sertifikasi dari Dinas Kesehatan dan dinyatakan bahwa produk ini layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak usia 1-12 tahun.

Gizidat Madu Gemuk Anak mengandung 4 komponen utama :

  • Madu Hutan / bukan madu ternak. Sehingga kualitas madu lebih baik, kayak akan flora dan organik. Didapatkan dari pedalaman hutan di kalimantan dan sumatra.
  • Curcuma
  • Ekstrak Ikan Sidat
  • Probiotik

Mengapa Menggunakan Ikan Sidat?

karena di dalam ikan sidat mengandung:

  1. vitamin B1, 25 kali lipat susu sapi
  2. vitamin B2, 5 kali lipat susu sapi
  3. vitamin A, 45 kali lipat susu sapi,
  4. kandungan zinc (emas otak) 9 kali lipat susu sapi.
  5. Protein Albumin, Omega 3 , 6, 9 Vitamin B dan Zinc.

Untuk merangsang tumbuh kembang anak terutama agar badan menjadi terlihat gemuk, maka gizidat diberi tambahan unsur temulawak / curcuma yang sudah sejak lama dan secara ilmiah diyakini memiliki efek yang bagus sekali untuk merangsang nafsu makan anak Anda.

Tidak cukup dengan itu, Madu Hutan yang ada di Gizidat juga mengandung probiotik yakni bakteri baik yang berfungsi untuk menyeimbangkan jumlah bakteri yang ada di usus Anak Anda.

Jika hanya terdapat sedikit saja bakteri probiotik yang ada dalam usus sang Anak, bisa dipastikan penyerapan sumber makanan akan menjadi kurang optimal sehingga gizi dan nutrisinya tidak bisa sepenuhnya bisa diserap oleh tubuh.

Sudah banyak testimoni mengenai gizidat ini loh bunda..jadi jangan khawatir mengenai efek samping madu gemuk anak. Asalkan bunda pakai gizidat…

nb : Gizidat madu anak karena mengandung ekstrak ikan sidat hanya tidak diperbolehkan untuk diberikan kepada anak-anak yang menderita alergi terhadap ikan laut dan alergi terhadap putik sari / madu atau ada riwayat semacam itu pada orangtuanya.

Segera Pesan Gizidat Sekarang Juga…………………

Ketahuilah, Ayah Bunda.. Mencintai Anak-Anak Bukan Berarti Memastikan Mereka Selalu Bahagia dan Memenuhi Segala Keinginannya

Hasil gambar untuk anak bahagia

Kalau setiap orang ditanya apakah mereka mencintai anak-anaknya, pasti jawabannya; iya, dengan sepenuh hati. Orang tua lalu melakukan hal apa yang ia anggap bisa menyenangkan hati anak-anaknya. Kebanyakan orang tua menganggap hal itu adalah tanda cinta mereka pada anak-anaknya. Yaitu dengan memenuhi segala permintaan anak-anak.

Selain itu, orang tua bakalan menjauhkan anak-anaknya dari isak tangis. Dari kesedihan. Dan dari kesusahan. Ya, bisa jadi kebanyakan orang tua seperti itu. Walau sebenarnya sikap tersebut justru bukan bentuk rasa cinta ayah bunda pada anak, tapi justru bisa menjadikan anak tumbuh menjadi anak yang manja, cengeng dan lemah.

Kita harus menyiapkan anak-anak yang tangguh, bukan anak-anak yang bahagia

Ingatkah kita pesan itu? Bahwa kita harus menyiapkan generasi yang lebih kuat dari kita. Kenapa? Karena bisa jadi tantangan di masa mendatang akan lebih berat dari saat ini.

Selama ini kita mungkin berpikir menjadikan anak bahagia bisa menjadikan kehidupan mereka lebih baik. Tapi ternyata itu salah.

Setiap ibu, mungkin, tak pernah segan untuk mengorbankan apa saja demi menghapus air mata anaknya yang masih usia tiga tahun. Dalam diri ibu ada sebuah perasaan “tak tega” melihat anaknya ngamuk, nangis kencang, rewel, hanya demi keinginan sebuah mainan, misalnya.

Perasaan tak tega yang bercampur saking jengkelnya, malu, ataupun pikiran “sudahlah, cuma mainan doang.” Karena memenuhi semua keinginan anak, ternyata tak selamanya adalah tindakan yang tepat.

Tanpa sadar, pengalaman ayah ibu yang “masa kecilnya kurang bahagia” membuat sikap yang justru melemahkan anak

Diakui atau tidak diakui pengalaman di masa kecil akan ikut membentuk kepribadian kita saat dewasa. Apabila kita punya trauma masa kecil, merasa bahwa kehidupan kita di masa lalu tidak bahagia, maka kita cenderung akan menjauhkan anak-anak dari pengalaman yang sama dengan kita.

Padahal, kata Shefali Tsabary, Ph.d seorang pakar parenting, beberapa orang mengira menjadi orang tua yang sadar adalah memanjakan anak dan menuruti semua kemauan mereka supaya mereka puas dan nyaman. Jutsru sebaliknya, pola asuh semacam itu ternyata didasari oleh rasa takut yang berakar pada ketidaksadaran.

Artinya kalau banyak orang tua menuruti semua keinginan anak agar anak puas dan nyaman, itu bukan muncul dari kesadaran orang tua, tapi lebih condong pada aspek alam bawah sadar orang tua itu. Dalam alam bawah sadar, mereka takut anak mereka “tidak nyaman.”

Padahal sudah semestinya orang tua sadar bahwa pola asuh seperti itu justru akan melemahkan anak-anak kita.

“Sebaliknya, orangtua yang sadar tidak akan takut untuk membuat anak merasa tidak nyaman kalau itu dibutuhkan agar mereka bisa berkembang,” katanya seperti tertulis dalam buku The Awakened Family.

“Pendekatan ini agar anak tumbuh menjadi tangguh dan berdaya guna, tidak melulu bahagia dan merasa nyaman.”

Ya, anak yang tangguh. Yang siap menghadapi segala rintangan dan tantangan di masa depannya. Karena anak akan hidup di dunia mendatang, yang kita tidak akan tahu akan seperti apa.

Karena anak yang tangguh bisa menemukan kebahagiaan dalam situasi dan kondisi apa pun

Membiasakan anak untuk mandiri, tidak menuruti semua keinginan anak dan hanya memilihkan untuknya apa yang baik bagi dirinya kini dan kelak di masa depan. Serta memupuk jiwa anak agar tidak kerdil dan punya kekuatan, maka anak kelak akan menemukan kebahagiaan dalam situasi apa pun.

Berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan doroang anak untuk mengetahui banyak hal, termasuk mengetahui bahwa setiap ia punya keinginan maka ia bisa mendapatkannya dengan usahanya sendiri.

Orang tua juga mesti bersikap tegas pada anak. Ya, termasuk tegas juga pada dirinya sendiri. Jangan menyerah dengan kemauan anak yang menurut kita tidak baik untuknya. Akibatnya anak menjadi pribadi yang selalu mengamuk, rewel, tantrum, setiap kali keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya.

Memang tidak mudah. Saya tahu dan mengalaminya. Ya, benar-benar tidak mudah. Dan selalu ingat, jangan sampai kita salah paham, karena ingin bersikap tegas, eh malah kita memberikan tugas di luar kemampuan anak dengan selalu memukul dan membentak anak.

Mempunyai anak bukanlah garis finish, ia adalah garis start. Yang kita tidak akan pernah tahu dimana garis finishnya, mungkin saat nafas kita sudah berhenti. Mendidik anak tak akan berhenti hanya saat ia sudah besar. Tidak. Sampai usia anak dewasa pun kita masih harus mendidiknya, tentu dengan cara yang berbeda.

Maka mumpung anak masih kecil, kita didik ia agar kelak ia menjadi anak yang tangguh. Yang kuat jiwa dan imannya.

Bunda Termasuk ‘Mama Milenial’? Perhatikan Tanda Tanda Ini………….

Bunda pasti sudah akrab dengan istilah generasi milenial. Sebutan tersebut mengacu pada kelompok demografi yang lahir pada awal tahun 1980 sampai 2000. Jadi jika Bunda lahir pada rentang tahun itu, Bunda termasuk generasi milenial. Dari segi karakteristik, generasi milenial umumnya ditandai dengan penggunaan komunikasi media dan teknologi digital.

Namun, bagi Bunda yang sudah berstatus sebagai istri dan seorang Mama, ada beberapa ciri yang dapat mengukuhkan Bunda sebagai Mama Milenial, sebagaimana dilansir dari www.baby-chick.com.

Bunda adalah seorang Mama Milenial jika…

  1. Playdate bukan hanya untuk anak

Bunda juga menyukai aktivitas bermain dan berkumpul bersama teman atau komunitas. Kegiatan playdate yang Bunda lakukan, tidak hanya untuk bersenang-senang bersama anak, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Bunda untuk tampil eksis. Tak heran jika Bunda pun mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto atau video, kemudian mengunggahnya di media sosial.

  1. Memiliki banyak foto digital tapi jarang mencetaknya

Sebagai Mama Milenial, Bunda gemar menangkap foto dari berbagai momen. Koleksi foto Bunda di Facebook atau Instagram pun mencapai ribuan. Tapi akan berpikir seribu kali untuk mencetak semua foto itu. Bunda berpikir untuk apa mencetaknya, jika sudah tersimpan rapi secara digital?

  1. Memberi bayi nama yang super kreatif

Orang tua milenial cenderung memberi nama unik pada bayi mereka. Nama-nama umum dan tradisional mulai ditinggalkan. Fenomena ini tidak hanya di Indonesia, tetapi terjadi dalam skala global. Negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang, pun tak luput dari tren memberi nama unik pada anak mereka. Di Selandia Baru bahkan muncul kasus nama teraneh: seorang anak perempuan diberi nama ‘Talula Does the Hula From Hawaii’.

  1. Memberi kesempatan pada anak untuk mengakses internet

Sebagian orang tua milenial bahkan memberikan gadget khusus untuk si kecil. Meski ia belum dibiarkan penuh untuk mengelolanya. Jika tidak demikian, anak diperbolehkan berkenalan atau mengeksplorasi teknologi internet melalui gadget orang tuanya.

  1. Lebih suka belanja online

Meski tidak semua keperluan rumah tangga dibeli melalui online, ada kalanya Mama Milenial berpikir: “untuk apa berlelah-lelah ke supermarket, jika gadget dapat melakukan segalanya.”

  1. Cenderung lebih percaya website daripada omongan orang terdekat sekalipun

Website atau blog bagi Mama Milenial ada kalanya berfungsi sebagai konsultan pribadi. Ketika berhadapan dengan suatu masalah, atau memerlukan informasi, Bunda akan meraih gadget kemudian mulai memasukkan kata kunci pada laman Google.

Jika Bunda sudah punya website langganan atau yang Bunda percayai, Bunda pun langsung mengetikkan alamat website tersebut.

  1. Me time dengan internet atau nonton film kesayangan di aplikasi

Setelah lelah mengurus si kecil seharian, Mama milenial biasanya beristirahat dengan menikmati kenyamanan sofa di rumah, sambil scrolling media sosial. Bagi penggemar film, Bunda mungkin juga menyempatkan waktu untuk streaming melalui aplikasi.

Dari beberapa tanda tersebut, Bunda mungkin menyetujui sebagian atau semuanya. Apa pun itu, milenial atau bukan, seorang ibu tetaplah sosok tangguh yang memberikan sentuhan kasih terbaik bagi anak-anaknya. Perbedaannya hanya pada agen sosialisasi atau media informasi yang memengaruhi sikap, perilaku, serta cara berpikir

 

Yaiks…..Sudah Besar Kok Masih Sering Ngompol?

Saat masih batita, wajar saja bila si Kecil masih suka mengompol, terutama saat tidur malam hari. Tetapi ketika si Kecil masih tidak bisa mengontrol keinginan buang air kecil hingga menjelang usia 5 tahun, Bunda tentu jadi khawatir.

Sebenarnya, masalah mengompol tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak mengendalikan keinginan buang air kecil. Tetapi, bisa juga dikarenakan anak memiliki kantung kemih yang overaktif. Jadi, kantung kemih si Kecil sering kali bekerja tanpa mengirimkan sinyal ke otak agar memberi peringatan pada anak bahwa ia harus pipis.

Sulit untuk mengetahui apakah anak Bunda termasuk yang memiliki kantung kemih yang overaktif, sehingga sulit menahan keinginan pipis. Namun, umumnya anak-anak tersebut punya kebiasaan seperti di bawah ini:

* Masih sering mengompol di pagi hingga sore hari, padahal usianya sudah melewati 3 tahun.
* Setelah berusia 4 tahun masih suka mengompol saat tidur malam.
* Sering bolak-balik pipis ke kamar mandi, bahkan sampai terburu-buru ke kamar mandi karena tidak tahan ingin pipis.
* Tidurnya tidak nyenyak karena sering terganggu ingin pipis.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan anak memiliki kantung kemih yang overaktif sehingga sering sulit menahan keinginan pipis:

* Suka minuman yang mengandung kafein, seperti teh atau soda. Kandungan kafein bersifat diuretik, sehingga merangsang tubuh mengeluarkan cairan dan anak pun jadi sering pipis.
* Faktor alergi. Makan atau minum sesuatu yang memicu alergi si kecil bisa membuatnya memiliki kantung kemih yang overaktif.
* Cemas atau gelisah. Situasi yang membuat anak cemas, takut, atau gelisah bisa memicunya lebih sering pipis -bahkan mengompol.
* Kelainan pada kantung kemih. Struktur kantung kemih yang tidak normal bisa membuat anak lebih sering pipis. Begitu juga jika dinding kantung kemih teriritasi, sehingga sebagai reaksinya kantung kemih akan mengosongkan diri lebih sering.
* Kantung kemih yang overaktif juga bisa dikarenakan tubuh tidak memproduksi hormon ADH dalam jumlah cukup. Hormon ini berfungsi memperlambat produksi air seni dan tubuh cenderung memproduksi lebih banyak ADH di malam hari. Jika tubuh si Kecil tidak memproduksi cukup ADH, produksi urin pun tidak melambat di malam hari, sehingga si Kecil jadi sering pipis atau mengompol.

Supaya si Kecil tidak terlalu sering pipis, terutama di malam hari, Bunda perlu menghilangkan konsumsi kafein dalam kesehariannya. Selain bisa membuat kantung kemih jadi overaktif, kafein juga bisa mengganggu pola tidur anak.  Selain itu, hindari terlalu banyak minum sebelum tidur apalagi jika si Kecil masih sering mengompol di malam hari. Cukupkan asupan minum sekitar beberapa jam sebelum tidur, maka kebiasaan mengompol di malam hari pun akan berkurang.

©2019 Madu Gizidat. Beautiful Creation by Geraima