fbpx

Ketahuilah, Ayah Bunda.. Mencintai Anak-Anak Bukan Berarti Memastikan Mereka Selalu Bahagia dan Memenuhi Segala Keinginannya

Hasil gambar untuk anak bahagia

Kalau setiap orang ditanya apakah mereka mencintai anak-anaknya, pasti jawabannya; iya, dengan sepenuh hati. Orang tua lalu melakukan hal apa yang ia anggap bisa menyenangkan hati anak-anaknya. Kebanyakan orang tua menganggap hal itu adalah tanda cinta mereka pada anak-anaknya. Yaitu dengan memenuhi segala permintaan anak-anak.

Selain itu, orang tua bakalan menjauhkan anak-anaknya dari isak tangis. Dari kesedihan. Dan dari kesusahan. Ya, bisa jadi kebanyakan orang tua seperti itu. Walau sebenarnya sikap tersebut justru bukan bentuk rasa cinta ayah bunda pada anak, tapi justru bisa menjadikan anak tumbuh menjadi anak yang manja, cengeng dan lemah.

Kita harus menyiapkan anak-anak yang tangguh, bukan anak-anak yang bahagia

Ingatkah kita pesan itu? Bahwa kita harus menyiapkan generasi yang lebih kuat dari kita. Kenapa? Karena bisa jadi tantangan di masa mendatang akan lebih berat dari saat ini.

Selama ini kita mungkin berpikir menjadikan anak bahagia bisa menjadikan kehidupan mereka lebih baik. Tapi ternyata itu salah.

Setiap ibu, mungkin, tak pernah segan untuk mengorbankan apa saja demi menghapus air mata anaknya yang masih usia tiga tahun. Dalam diri ibu ada sebuah perasaan “tak tega” melihat anaknya ngamuk, nangis kencang, rewel, hanya demi keinginan sebuah mainan, misalnya.

Perasaan tak tega yang bercampur saking jengkelnya, malu, ataupun pikiran “sudahlah, cuma mainan doang.” Karena memenuhi semua keinginan anak, ternyata tak selamanya adalah tindakan yang tepat.

Tanpa sadar, pengalaman ayah ibu yang “masa kecilnya kurang bahagia” membuat sikap yang justru melemahkan anak

Diakui atau tidak diakui pengalaman di masa kecil akan ikut membentuk kepribadian kita saat dewasa. Apabila kita punya trauma masa kecil, merasa bahwa kehidupan kita di masa lalu tidak bahagia, maka kita cenderung akan menjauhkan anak-anak dari pengalaman yang sama dengan kita.

Padahal, kata Shefali Tsabary, Ph.d seorang pakar parenting, beberapa orang mengira menjadi orang tua yang sadar adalah memanjakan anak dan menuruti semua kemauan mereka supaya mereka puas dan nyaman. Jutsru sebaliknya, pola asuh semacam itu ternyata didasari oleh rasa takut yang berakar pada ketidaksadaran.

Artinya kalau banyak orang tua menuruti semua keinginan anak agar anak puas dan nyaman, itu bukan muncul dari kesadaran orang tua, tapi lebih condong pada aspek alam bawah sadar orang tua itu. Dalam alam bawah sadar, mereka takut anak mereka “tidak nyaman.”

Padahal sudah semestinya orang tua sadar bahwa pola asuh seperti itu justru akan melemahkan anak-anak kita.

“Sebaliknya, orangtua yang sadar tidak akan takut untuk membuat anak merasa tidak nyaman kalau itu dibutuhkan agar mereka bisa berkembang,” katanya seperti tertulis dalam buku The Awakened Family.

“Pendekatan ini agar anak tumbuh menjadi tangguh dan berdaya guna, tidak melulu bahagia dan merasa nyaman.”

Ya, anak yang tangguh. Yang siap menghadapi segala rintangan dan tantangan di masa depannya. Karena anak akan hidup di dunia mendatang, yang kita tidak akan tahu akan seperti apa.

Karena anak yang tangguh bisa menemukan kebahagiaan dalam situasi dan kondisi apa pun

Membiasakan anak untuk mandiri, tidak menuruti semua keinginan anak dan hanya memilihkan untuknya apa yang baik bagi dirinya kini dan kelak di masa depan. Serta memupuk jiwa anak agar tidak kerdil dan punya kekuatan, maka anak kelak akan menemukan kebahagiaan dalam situasi apa pun.

Berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan doroang anak untuk mengetahui banyak hal, termasuk mengetahui bahwa setiap ia punya keinginan maka ia bisa mendapatkannya dengan usahanya sendiri.

Orang tua juga mesti bersikap tegas pada anak. Ya, termasuk tegas juga pada dirinya sendiri. Jangan menyerah dengan kemauan anak yang menurut kita tidak baik untuknya. Akibatnya anak menjadi pribadi yang selalu mengamuk, rewel, tantrum, setiap kali keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya.

Memang tidak mudah. Saya tahu dan mengalaminya. Ya, benar-benar tidak mudah. Dan selalu ingat, jangan sampai kita salah paham, karena ingin bersikap tegas, eh malah kita memberikan tugas di luar kemampuan anak dengan selalu memukul dan membentak anak.

Mempunyai anak bukanlah garis finish, ia adalah garis start. Yang kita tidak akan pernah tahu dimana garis finishnya, mungkin saat nafas kita sudah berhenti. Mendidik anak tak akan berhenti hanya saat ia sudah besar. Tidak. Sampai usia anak dewasa pun kita masih harus mendidiknya, tentu dengan cara yang berbeda.

Maka mumpung anak masih kecil, kita didik ia agar kelak ia menjadi anak yang tangguh. Yang kuat jiwa dan imannya.

©2019 Madu Gizidat. Beautiful Creation by Geraima