fbpx

Ingin Mendisiplinkan Anak? Cara Bunda Glory Ini Bisa Ditiru Ya Moms…..

Ingin Mendisiplinkan Anak? Cara Ini Bisa Ditiru Moms

Usia Harvey mendekati 16 bulan, di tahap ini tidak hanya keingintahuannya yang tinggi dengan memanjat perabotan dan membongkar barang, tapi emosinya juga sudah semakin berkembang.

Jika dilarang atau dinasehati agar tidak melakukan suatu hal, Harvey mudah kecewa dan pelampiasannya dengan melempar barang atau memukul wajah saya atau pengasuhnya.

Tentu saya tidak ingin Harvey terus mempertahankan perilaku buruk ini.

Tapi untuk mendisiplin dengan memukul saya belum tega.

Walaupun Harvey belum bisa bicara lancar, tapi di usianya ini dia sudah mengerti perintah dan kalimat sehingga sebenarnya paham apa yang kita larang.

Tapi namanya juga anak pertama, semuanya serba khawatir, jika dipukul apakah nanti anak tidak trauma atau jadi membenci kita?

Umur berapa seharusnya mulai diterapkan hukuman disiplin?

BACA JUGA : Wahai, Ibu, Meski Sedang Kesal dan Marah, Namun Tetaplah Hindari 10 Jenis Hukuman yang Bikin Anak Minder dan Trauma Ini

Setelah membaca beberapa referensi dan ngobrol dengan ibu–ibu yang lebih senior, saya dan suami sepakat untuk mendisiplinkan Harvey tapi dengan “cara kami”.

Jadi moms, saya melakukannya dengan cara “iron fist in a velvet glove” alias tegas tapi tetap lembut.

Nah kurang lebih begini, saat Harvey merengek karena dilarang nonton video di gadget, kami akan konsisten melarang dan membiarkannya menangis.

Tapi kemudian saya atau suami akan mencari pengalihan seperti mengajaknya keluar ke halaman rumah sebentar atau mengajaknya bermain dengan buku bacaan atau mainan non-digital lainnya.

Ketika Harvey mulai emosi dan memukul atau melempar barang, kami akan menangkis pukulannya, atau jika perlu menepuk tangannya dengan lembut sambil mengatakan tidak boleh atau jangan.

Namun tetap memertahankan ekspresi wajah agar tidak terlihat melotot atau galak, agar anak tetap merasa ‘figur’ rasa amannya tetap ada.

Karena moms dari pengalaman seorang sahabat jika kita memarahi anak dengan jengkel dan muka kesal maka secara psikologis anak akan tertekan.

Tapi tidak cukup di sini Moms, saat anak dalam kondisi emosi yang baik, kita harus berkomunikasi dengan menatap matanya dan memberikan pengertian berulang.

“Kalau marah tidak boleh pukul ya…kalau pukul mama sakit dan sedih, Harvey nggak mau kan, mama sedih?”.

Intinya jangan sampai kita menasehati disaat kita masih mendisiplinkannya

Misalnya dengan ekspresi wajah yang ngotot dan nada yang tinggi, karena anak akan kehilangan ‘tempat berlindungnya’.

Mendisiplin tindakan di saat dia melakukan hal yang salah perlu dilakukan, tapi memberi masukan di saat lainnya itulah yang diharapkan akan didengar dan dimengerti anak.

Dan membuat pola perilakunya berubah, setelah saya mencoba melakukan hal ini beberapa kali, sekarang sudah sekitar satu minggu Harvey tidak melempar barang kalau sedang kesal.

Sementara untuk perilaku memukul sudah berkurang meskipun masih sesekali terjadi.

Yang penting konsisiten dan kompak dengan suami dalam mendidik.

Hal lainnya saya dan suami juga menghindari peran “good cop” “bad cop”karena nanti anak akan melihat ketidak konsistenan orang tua dalam sebuah keputusan, atau berpihak pada salah satu orang tua ketika yang satunya sedang mendisiplin.

Meskipun tidak mudah dilakukan namun hal ini cukup berhasil buat saya dalam mendidik Harvey, semoga berhasil juga buat moms semua ya.

Hasil gambar untuk glory oyong dan keluarga

©2019 Madu Gizidat. Beautiful Creation by Geraima